Sabtu, 19 Mei 2012

4 langkah yang saya lakukan Seandainya saya jadi CEO Grup Bakrie



Mimpi kali, yah memang mimpi bisa memimpin perusahaan besar yang sudah berumur 70 tahun. Padahal, penelitian Peter Sange (1990) menyimpulkan bahwa perusahaan-perusahaan kelas dunia dan masuk dalam fortune 500, memiliki umur rata-rata 40-50 tahun, atau dengan kata lain secara rata-rata hanya berumur dua generasi. Tentu sangat berat menjadi CEO grup Bakrie karena saat ini memasuki generasi ketiga yang notabene masa-masanya penuh dengan tantangan. Tapi karena ini berandai-andai, setidaknya saya akan menuliskan apa yang akan saya lakukan seandainya saya menjadi CEO Grup Bakrie.
Langkah 1. Menumbuhkan nilai-nilai perusahaan sebagai jati diri
Sebagai perusahaan besar dengan usia mumpuni, tentu Grup Bakrie memiliki nilai-nilai perusahaan yang diwariskan oleh sang pendiri. Grup Bakrie memiliki ini yang disebut Trimatra Bakrie, yakni Keindonesiaan, Kemanfaatan dan Kebersamaan. Nilai-nilai inilah yang akan saya terus tanamkan sebagai jati diri perusahaan. Jati diri ini melekat dan tergambar pada sikap dan prilaku para staf perusahaan mulai dari direksi sampai bawahan, sehingga tumbuh sense of belonging yang tinggi terhadap perusahaan.
Langkah 2. Desentralisasi kewenangan
Grup Bakrie memiliki perusahaan yang bergerak diberbagai bidang. Sungguh muskil kalau semua dikendalikan oleh satu orang, saya bukan superman. Maka perlu desentralisasi kewenangan agar beban CEO tidak kelewat berat, selain itu agar para direksi di anak perusahaan bisa bergerak lincah dalam mengurus bisnis. Bukan berarti lepas tangan. Sebagai CEO tetap bertanggung  jawab dan siap mencarikan solusi dari permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan di bawah Grup Bakrie.
Langkah 3. Menjadikan perusahaan sebagai Organisasi Pembelajar
Yaitu organisasi yang mampu belajar dari masa lalu-terlebih grup Bakrie memiliki usia yang panjang dan sederet kisah inspiratif-, memiliki pengetahuan tentang konsumen maupun perusahaan, mampu menyelesaikan berbagai persoalan serta dihuni oleh manusia-manusia yang berpikir positif, mau dan mampu berbagi pengetahuan dan pengalamannya, sehingga mampu menciptakan nilai tambah yang signifikan dan berkelanjutan dengan menggunakan pengetahuan sebagai factor produksi utama. Di kampus saya mengenalnya dengan istilah Knowladge Management.
Karenanya investasi SDM menjadi sangat penting. Terlebih, factor penghambat dari organisasi pembelajar adalah ketidaksiapan manusia untuk belajar dan melakukan perubahan. Ingat, manusia tuna aksara di abad ini bukan orang yang tidak bisa membaca, tapi orang yang tidak bisa meninggalkan kebiasaan lamanya untuk belajar sesuatu yang baru. Masalah ini bukan sesuatu yang benar-benar sulit di atasi, karena manajemen Grup Bakrie yang sudah mapan dan memiliki lembaga pendidikan tersendiri seperti universitas yang siap menempa untuk kemudian merekrut orang-orang terbaik sebagai bagian dari perusahaan, akan memudahkan proses menjadikan perusahaan sebagai organisasi pembelajar.
Langkah 4. Lebih Peka Terhadap Sekitar
Saya termasuk orang yang memiliki komitmen bahwa kemajuan suatu bisnis harus berbanding lurus dengan kemajuan sosial perusahaan. Bicara soal lingkungan, Grup besar ini seperti sasaran tembak dari pesaing. Terlebih banyak anak perusahaan yang bersentuhan langsung dengan isu lingkungan. Karenanya isu ini harus menjadi perhatian penuh perusahaan. Agar citra buruk yang melekat bisa berbalik arah menjadi positif.
Pertama saya akan menjalankan sebuah bisnis dengan konsep industry hijau sebagai bentuk perhatian saya terhadap isu lingkungan. Kedua saya akan memberdayakan masyarakat sekitar baik sebagai tenaga kerja maupun binaan usaha mereka sebagai bentuk csr perusahaan. semua itu agar masyarakat di sekiatr perusahaan ikut merasakan manfaat dari keberadaan perusahaan. Baru kemudian publisitas untuk kemajuan dan citra perusahaan yang lebih baik

Yah sekiranya itu mimpi saya kalau saya jadi CEO grup Bakrie, salah satu korporasi raksasa di negeri ini. Cukup sekian terimakasih.

Selasa, 06 Maret 2012

Perlunya Pendidikan Gizi Bagi Ibu di Indonesia

Masalah gizi merupakan masalah yang cukup pelik di negeri ini. Meskipun alam kita kaya tetapi jumlah anak penderita gizi buruk relative besar. Bahkan angka ibu hamil yang meninggal pun cukup tinggi. Ini karena kurangnya pemahaman tentang gizi.

Kurangnya pemahaman akan pemenuhan gizi dengan makanan bernutrisi ini terjadi pada sebagian besar ibu-ibu di negeri ini. Terutama ibu-ibu yang taraf ekonomi dan pendidikannya rendah. Pola pikir sebagain kita masih terjebak bahwa makan bernutrisi itu harus makanan yang mahal. Padahal, banyak juga makanan yang murah meriah tetapi bernutrisi baik seperti ikan teri, tempe, dan pohon kelor.

Disinilah terjadi kemiskinan informasi, Yang saya maksud dengan kemiskinan informasi adalah tidak terpenuhinya kebutuhan informasi seseorang tentang sesuatu hal karena tidak adanya akses terhadap informasi tersebut. Di sini orang itu menyadari bahwa ia membutuhkan informasi tetapi tidak tahu harus berbuat apa. Sayangnya, tidak terpenuhinya kebutuhan akan informasi tertentu tersebut (dalam masalah yang kita bahas adalah kehamilan dan pemenuhan makanan bernutrisi) tidak disadari dampak buruknya pada kehidupan sehari-hari.

Masalah kemiskinan informasi inilah yang harus dipecahkan dengan memberikan akses informasi kepada khalayak, khususnya ibu-ibu. Karena Masalah ekonomi memang sulit untuk dinafikan, namun bisa disiasati dengan pemberian informasi yang tepat. Dengan kata lain masalah perbaikan gizi lebih kepada usaha pendidikan masyarakat. Kata pendidikan tidak perlu bersifat formal dan kaku seperti di sekolah-sekolah, tetapi bisa dengan cara yang santai tapi bisa tersampaikan dengan baik.

Nah, tugas besar menanti karena masalah perbaikan gizi dengan makanan bernutrisi adalah tugas bersama-sama. Salah satunya adalah memberikan informasi tentang makanan bernutrisi tinggi yang harganya relatief murah kepada ibu-ibu. Produknya bisa dalam bentuk penyuluhan, pembuatan brosur, film atau buku-buku yang bisa langsung diterima oleh ibi-ibu yang membutuhkan informasi tersebut. Dukungan akses informasi ini menjadi penting karena dengan pengetahuan yang didapat oleh ibu-ibu tentang makanan bernutrisi dengan harga murah adalah kemampuan ibu-ibu untuk memilih makanan yang tepat sesuai dengan kebutuhan nutrisi dan kekuatan kantongnya.

Salah satu contoh konkrit dalam mendukung akses ibu-ibu kepada Makanan Bernutrisi adalah Rumah Srikandi yang menjadi tempat pembelajaran masyarakat, khususnya ibu-ibu tentang makanan bernutrisi. Sehingga Rumah Srikandi bisa jadi role model dukungan akses informasi tentang nutrisi di garda depan. Selain itu, posyandu juga bisa didayagunakan untuk pendidikan gizi kepada ibu-ibu, terlebih jaringan yang dimilikinya juga sangat luas.

http://nutrisiuntukbangsa.org/blog-writing-competition/

Minggu, 26 Februari 2012

Cara Jitu Eksis dengan Internet

Internet, hmm kata yang yang satu ini pasti tidak asing lagi ditelinga bukan? Rasanya Hari gini semua penghuni kolong langit ini sudah pada tau internet. Perkembangan teknologi yang semakin cepat membuat akses ke internet semakin mudah, bahkan kini internet bisa dilipet dan dimasukan ke kantong-kantong pakaian kita.

Nah, dengan akses yang mudah, hampir semua orang kini selalu conect dengan internet, tapi tidak semua orang menjadi eksis apalagi produktif. Maksud produktif itu menghasilkan karya yang bermanfaat untuk dirinya sendiri dan orang lain. Kan, eksis itu keberadaan kita dirasakan oleh orang lain.

Oke, sebelum jauh-jauh ngebahas ke-eksis-an di internet, ada baiknya kita lihat pemaparan Pak Nukman Luthfie tentang hasil riset Forester Reaseach yang diterjemahkan menjadi Tangga Teknografi Sosial.

Di tangga teratas, ada golongan yang disebut sebagai Creator. Dengan cirinya adalah: memiliki blog atau website pribadi dan rajin diperbarui serta membuat dan mengupload audio atau video karyanya ke website (bisa YouTube misalnya). Blogger dapat berada di tangga teratas karena memang tepat digolongkan sebagai pekarya. Mereka berkarya membuat tulisan, apapun kategorinya lalu disebarkan secara bebas.

Di anak tangga kedua ada Conversationalist. Menurut Nukman Luthfie, mereka adalah para pengguna Facebook dan Twitter yang rajin menulis status. Meraka tidak memiliki blog. Tapi mereka rajin menulis, meski hanya 140 karakter di Twitter, atau 300 karakter di Facebook, atau di media sosial lain seperti Linked-In atau bahkan Friendsters. Meski bukan creators, mereka cerewet. Meski demikian, Lanjut Nukman Luthie, menariknya, 140 karakter, jika ditulis rutin, membawa pengaruh cukup besar. Sebuah tulis di blog, dengan seribu karakter lebih, memang memiliki pengaruh besar terhadap pembacanya. Namun 140 karakter di Twitter dan Facebook juga punya pengaruh, jika diulang-ulang atau disebarkan oleh pengguna lainnya sehingga membentuk viral. Contohnya gerakan koin Prita dan Cicak Versus Buaya.

Di bawah kedua tangga di atas, masih ada anak tangga lain, yang disebut sebagai Critics (tak punya blog, tidak mengupdate status di Twitter/Facebook, namun mengomentari blog/tulisan orang lain), Collectors (menggunakan RSS, memanfaatkan tag), Joiners (sekadar bergabung ke jejaring sosial), Spectators (membaca informasi di berbagai jejaring sosial tapi tak punya akun), dan Inactive (tak melakukan apaun).

Namun, hanya dua segmen teratas, yakni Creator dan Conversationalist, yang berperan besar dalam mempengaruhi publik pada umumnya dalam mengambil keputusan. Oleh karena itu, Nukman Lufthie menganjurkan jika ingin membangun citra diri dan bermakna di media social yang membuat kamu bisa eksis di berkat internet, syarat utamanya adalah kamu harus berada di tangga teratas, yakni memiliki blog/website sendiri, yang rajin diperbarui. Lalu gunakan Facebook dan Twitter sebagai media untuk penyebarannya, sekaligus menjalin komunikasi cepat. Dengan kata lain, menjadi creator sekaligus conversationalist!

Caranya?

Nah berikut ini mungkin bisa digunakan untuk eksis dengan internet

  1. Ekspresikan dirimu

Menjadi Creator berarti harus memiliki saluran untuk ekspresi diri. Untungnya internet menyediakan ruang untuk ekspresi diri, mulai dari blog sampai youtube. Nah, buat kamu-kamu yang punya potensi menulis atau seni bisa nih melahirkan karya dan dimuat di blog atau youtube. Kan tak perlu repot-repot dan takut ditolak oleh media.

Banyak kasus juga orang terkenal yang lahir dari dunia maya dan menyalurkan bakatnya lewat internet. Raditya Dika dengan blognya, atau Justin Bieber yang populer lewat youtube sebelum bakatnya dicium oleh produser terkenal.

Mau kan seperti orang-orang di atas, makanya kalau kamu punya bakat dan bisa melahirkan karya, ayo jadikan internet sebagai ajang ekpresi diri. Tidak bakal ada yang menolak karyamu loh, dan tentunya kamu bisa dapat feedback yang berguna buat memperbaiki karyamu dari pengunjung internet lainnya

2. Silaturahmi dan sebarkan karyamu

Salah satu fitur internet yang paling banyak digunakan adalah situs jejaring sosial, dengan situs jejaring sosial ini kita bisa bersilaturahmi dengan teman-teman kita dan orang-orang lain di belahan bumi lainnya. Adanya internet memangkas batas geografis yang secara fisik membatasi kita. Kini kita bisa bersilaturahmi dengan teman masa kecil yang ada di Malaysia, bahkan kita bisa bersilaturahmi dan menjalin koneksi dengan orang-orang terkenal yang di dunia nyata sangat sulit untuk kita temui. Saya pun memanfaatkan facebook buat mencari link dan koneksi ke orang-orang hebat loh, biar kita bisa belajar dan berkomunikasi lebih dekat dengan mereka yang hebat-hebat itu.

Setelah bersilaturahmi baru kita sebarkan karya yang telah kita buat dan moga-moga saja teman-teman maya kita pun ikut menyebarkan karya kita sehingga nama kita jadi semakin eksis.

Referensi:

Nukman Luthfie. Bermakna di Lautan Media Sosial. http://www.sudutpandang.com/2011/06/bermakna-di-lautan-social-media/

Senin, 20 Februari 2012

Bukavu; Wajah Perempuan dalam bingkai tragedi

buku ini memang jadul karena terbit tahun 2008, dan saya pun pernah mempublikasikan resensinya, tapi bukan tulisan saya. tulisan ini adalah pandangan saya terhadap buku tersebut.

Bukavu: Wajah Perempuan dalam Bingkai Tragedi

untuk El, sekedar pengantar dongeng.

Sebenarnya saya bukanlah siapa – siapa di dunia sastra, apalagi mengontari bukunya Helvi Tiana Rosa. Tapi, karena buku itu menginspirasi saya. Maka, saya akan mengomenatri Bukavu menurut pandangan saya.

”Kivu kau yang terindah,” Bisik Heminggway.

Aku ingin menangis tapi danau tak dapat menangis.

Kata Kivu, sebuah danau di provinsi Bukavu, saat menyaksikan seorang muslimah meninggal dunia dalam tragedi perang antarsuku di benua Hitam, Afrika.

Seperti telah menjadi hukum alam. Tragedi adalah takdir yang harus dihadapi. setiap manusia, umat, bangsa, bahkan Negara dalam perjalanan sejarahnya pasti mengalami tragedi. Pemicunya bisa bermacam – macam, karena fanatisme kesukuan, cinta harta, gila jabatan dan kekuasaan, penjajahan atas manusia, atau bahkan karena cinta. Dan terkadang ia hadir lewat tangan alam bernama; bencana.

Ketika bencana yang menelurkan tragedi kemanusiaan menghantam, maka wanita, anak – anak, orang lanjut usialah yang menjadi korban utama. Mereka sering disebut sebagai kelompok terlemah dalam masyarakat bila dibandingkan dengan lelaki dewasa.

Dan wanitalah yang terkadang harus merasakan betapa pahit dan getirnya tragedi kemanusiaan. Menanggung dosa kezhliman manusia. Kehilangan anggota keluarga, anak, suami, saudara. Kehilangan anggota tubuh. Kehilangan derajat kemanusiaan. Dilecehkan, dinodai dan dilecehkan. Bahkan kehilangan nyawa.

Setidaknya gambaran itu hadir dalam kumpulan cerpen Bukavu. Kumpulan 18 cerpen karya Helvi Tiana Rosa dalam rentang waktu dari tahun 1992 sampai 2005, mengusung konsistensi tema tgragedi kemanusiaan dengan wanita sebagai tokoh dalam ceritanya.

Cerpen lorong kematian menggambarkan dengan jelas lakon tragedi kemanusiaan sebagai akibat nafsu ingin merampas dan berkuasa di negeri orang. Yang di mana korbannya adalah rakyat sipil tak berdosa, terutama wanita.

Tapi yang menarik dari kumpulan cerpen Bukavu ini adalah tokoh – tokoh yang diceritakan bukanlah wanita biasa. Bukan wanita yang hanya bisa meratap, mencaci, mengutuk, dan menangisi keadaan, bukan orang – orang yang hanya pasrah begitu saja menghadapi bencana, tanpa ada upaya untuk berbuat suatu hal yang dapat memperbaiki nasib dan keadaan. Tokoh – tokohnya adalah manusia – manusia luar biasa yang masih memiliki semangat hidup dan elan perjuangan yang membara menghadapi tragedi. Mereka kokoh berdiri di tengah keputusasaan dan kelemahan orang – orang yang ada di sampingnya. Luar biasa dan begitu menginspirasi.

Dalam waktu yang sama kontradiksi – kontradiksi tragik dapat menimbulkan perasaan sakit dan menderita. Namun di sisi lain, terutama dalam hal – hal kepahlawanan, kontradiksi tragik seorang pahlawan bukan hanya dapat membangkitkan kesedihan hati manusia namun juga perasaan – perasaan estetik yang dapat memurnikan kesadaran, menumbuhkan kebencian terhadap motif – motif keji, dan menguatkan kehendak serta keberanian. (Abu Ridho, 2008.)

Dalam cerpen Cut Vi, diceritakan bagaimana seorang mahasiswi asal Aceh yang hanya tinggal berdua bersama ibunya, menjadi relawan LSM dan tak pernah jemu memperjuangkan kata hati nuraninya di tengah konflik berkepanjangan antara TNI dengan GAM sebelum akhirnya tsunami datang menerpa. Di sini terlihat vitalitas tokoh yang diceritakan dalam mereaksi keadaan sekitarnya dan bertahan hidup.

Begitu juga PeriBiru. Cerpen yang mengisahkan perjuangan hidup gadis belia yang bercita – cita menjadi penulis terkenal. Ia hidup di tengah keluarga yang bermasalah, ibunya mengidap traumatis akibat diperkosa, kakaknya mengidap keterbelakangan mental, sedangkan ayahnya meninggalkan mereka setelah terpukul mengetahui istrinya diperkosa dan memilih untuk menetap di Malaysia. Ia terpaksa harus memendam sementara waktu keinginannya itu setelah kakeknya sakit dan tak sanggup lagi membiayai kehidupan keluarganya, keluar dari sekolah dan mencari pekerjaan. Di tengah kondisi serba terbatas seperti itu, semangat dan keinginannya untuk jadi penulis terkenal tetap menggebu, walaupun halangan selalu setia menghadang.

Bahkan Ze, seorang gadis belia dari Timor Lorosae dengan berani menyuarakan isi hatinya ditengah ketegangan pasca refrendum, walau pun harus berakhir tragis; mati ditembak.

Dan masih ada cerpen – cerpen lain yang menceritakan tokoh utama dengan vitalitas hidup luar biasa. Namun, dibalik orang tua pasti ada orang – orang lemah, yang dihadapkan pada masalah sedikit saja sudah layu. HTR menyadari itu dengan baik. Ia tidak hanya menulis cerpen dengan vitalitas tokohnya yang luar biasa, tapi juga mengimbanginya dengan tokoh – tokoh yang kepribadiannya lemah.

Titin misalnya, dalam cerpen Titin Gentayangan, digambarkan sebagai sosok yang kepribadiannya lemah dan vitalitas hidupnya sangat payah. Hanya karena ditinggal kawin oleh pacarnya, ia memilih untuk mengakhiri hidupnya. Berbagai cara ia lakukan untuk mengakhiri hidupnya dan menghapus luka asmaranya itu, walaupun pada akhirnya selalu gagal.

Juga pada cerpen Idis yang mengambil setting zaman penjajahan Belanda, digambarkan bagaimana si tokoh utamanya adalah orang yang penakut dan tramatis akibat kedua orang tuanya dibantai di depan matanya. Ia memilih berkelana untuk bertahan hidup sampai akhirnya bertemu dengan seorang yang menolongnya, yang dikemudian hari ia ketahui adalah Idis, buronan nomor wahid penjajah Belanda sebelum Idis diekseskusi mati, dan membuatnya lebih berani.

Bukavu adalah potret wajah perempuan dalam bingkai tragedi. Baik tragedi Aceh, Ambon, Timor Lorosae, Bosnia, Palestina, sampai Rwanda, dan bahkan dalam lingkup keluarga. HTR memotret itu dengan jeli kemudian ia tuangkan kedalam tulisan. walaupun sebagian besar cerpennya ditulis dalam keadaan berjarak, dalam artian penulis tidak hadir dalam tempat kejadian, tapi itu tidak mengurangi kualitas dari cerita. Ia seperti mewakili suara mereka yang hidup di tengah tragedi. Mewartakannya untuk umat manusia tentang kisah lara sebuah kehidupan.

Gelap FIB UI, 141008

Ahmad Yunus, Penikmat Sastra.

Kamis, 16 Februari 2012

Untuk Mahasiswa yang mau menembus kolkm Suma koran Sindo

Saya pernah mendapat email dari redaksi Seputar Indonesia, ternyata kabar yang mengatakan tulisan saya akan dimuat pada esok hari. cukup kaget, oh, ternyata sekarang redaksi sindo sudah memperbaiki komunikasinya dan memberitahukan kepada penulis yang tulisannya akan di muat. surprise karena sebelumnya saya harus membeli sindo terlebih dahulu untuk melihat apakah tulisan saya dimuat atau tidak.

nah, itu pembuka tulisan kali ini. kali ini saya mau berbagi tentang cara mengirim tulisan ke kolom Suma.

1. tulislah karya yang sesuai dengan tema yang diminta oleh redaksi Sindo. temanya bisa liat di sini

2. ikuti peraturan yang ditentukan oleh rekasi sindo, untuk tulisan saya hanya membuat tulisan sebanyak satu halam A4 denagn spasi 1,5.

3. cara kirimnya, saya menggunakan akun ahmad.yunus@ui.ac.id ini untuk daya tawar saja bahwa saya berasal dari institusi pendidikan (mahasiswa).

4. isi email, saya ketika mengirim tulisan ke media adalah:

salam,

saya mau kirim tulisan semoga dimuat

a. yunus

5. semua tulisan dilampirkan dalam bentuk doc, disertai juga lampiran data pribadi, juga foto. oh ya fotonya yang bagus yah, gak usah ngikutin saya yang suka sekedarnya saja ngasih foto dan sering diminta kirim foto ulang. hehe

Jumat, 10 Februari 2012

Menembus Batas; sebuah kisah keteladanan seorang ayah dalam mendidik anak-anaknya

menurutmu, orang tua yang baik itu seperti apa? Orang tua yang pandai tapi tidak bisa membuat anak-anaknya sependai dirinya, atau orang tua yang biasa saja tapi mampu membuat membuat atau menyekolahkan anak-anaknya hingga lebih pandai daripada dirinya?

-Tanya pak budi kepada anak-anaknya-

Judul : MENEMBUS BATAS

Penulis : BUDI SETIADI DAN TIM REDAKSI

ISBN : 978-602-8512-27-5

Tebal : 180 halaman

Penerbit : Ziyad

Tahun terbit : 2010

Harga : Rp 36000,-

Buku menembus batas ini berkisah tentang perjuangan seorang Budi Setiadi, ayah enam orang anak dengan istri yang mengidap sakit parah, dalam mengarungi hidup dan mengantarkan anak-anaknya meraih cita-cita. Padahal penghasilan pak Budi sebulan hanya RP. 450.000,- yang terkadang malah kurang dari itu.

Dikisahkan dengan sederhana dan mencair, buku ini bertutur bagaimana cara pak Budi berjuang dan mendidik anak-anaknya hingga bisa sampai di bangku kuliah. Bayangkan, dengan penghasilan minor seperti itu, pak Budi dapat menyekolahkan ketiga anaknya di fakultas teknik UGM dan ITB.

Buku ini pun dilengkapi dengan informasi tambahan yang masih sesuai dengan tema buku ini. Informasi tambahan ini memberikan fakta empiris tentang cara yang dilakukan pak Budi dalam mendidik keenam anak-anaknya.

Buku ini sungguh mengispirasi. Kisahnya menohok tajam pola pikir konvensional, di mana alasan ekonomi selalu menjadi alasan orang miskin untuk tidak bersekolah dan juga menohok prilaku orang mampu yang merasa cukup dengan memberikan fasilitas serta sekolah mahal tanpa peduli bhawa anak juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang.

Pak Budi telah berbagi semangat. Ia telah memberikan sebuah kisah kegigihan hidup dan arti penting pengorbanan, meskipun dalam usahanya tak sedikit aral melintang dan badai yang menghambat laju perjalanannya.

Kawan, untuk anda yang sudah berkeluarga, buku ini bisa menjadi referensi dalam mendidik anak-anak anda. Sedangkan, untukmu yang belum menikah dan masih berkelanan mencari ilmu, buku ini akan membawa anda melihat sebuah cakrawala baru yang dapat menajdi pelecut semangat dalam menuntut ilmu, karena anda akan disuguhkan perjuangan dan pengorbanan orang tua demi kemajuan anak-anaknya, setidaknya anda akan dibuat menangis dan merenung akan apa yang telah orang tua anda perbuat hanya untuk anda: anaknya.

Akhirnya saya tutup tulisan ini dengan sebuah kalimat bijak:

Orang lemah yang optimis, lebih baik daripada orang mampu namun pesimis, optimis terkadang mengubah kelemahan menjadi sebuah kekuatan.”

Dan pak Budi telah merasakan dan menjalani itu!

Pondok cina, 24-03-2010

Senin, 06 Februari 2012

Yang Mau Kirim Tulisan ke Koran Kompas

ini adalah surat dari redaksi kompas yang pernah saya terima ketika mengirimkan tulisan saya. buat anda yang mau juga mengirimkan naskah ke kompas ada baiknya baca syarat – syarat di bawah ini.

Kriteria umum untuk ARTIKEL Kompas :

1. Asli, bukan plagiasi, bukan saduran, bukan terjemahan, bukan sekadar kompilasi, bukan rangkuman pendapat/buku orang lain .

2. Belum pernah dimuat di media atau penerbitan lain termasuk Blog, dan juga tidak dikirim bersamaan ke media atau penerbitan lain.

3. Topik yang diuraikan atau dibahas adalah sesuatu yang actual, relevan, dan menjadi persoalan dalam masyarakat.

4. Substansi yang dibahas menyangkut kepentingan umum, bukan kepentingan komuninas tertentu, karena Kompas adalah media umum dan bukan majalah vak atau jurnal dari disiplin tertentu.

5. Artikel mengandung hal baru yang belum pernah dikemukakan penulis lain, baik informasinya, pandangan, pencerahan, pendekatan, saran, maupun solusinya.

6. Uraiannya bisa membuka pemahaman atau pemaknaan baru maupun inspirasi atas suatu masalah atau fenomena.

7. Penyajian tidak berkepanjangan, dan menggunakan bahasa populer/luwes yang mudah ditangkap oleh pembaca yang awam sekalipun. Panjang tulisan 3,5 halaman kuarto spasi ganda atau 700 kata atau 5000 karakter (dengan spasi) ditulis dengan program Words.

8. Artikel tidak boleh ditulis berdua atau lebih.

9. Menyertakan data diri/daftar riwayat hidup singkat (termasuk nomor telepon / HP), nama Bank dan nomor rekening.

10. Alamat e-mail opini@kompas.co.id

Catatan: Untuk kelengkapan administrasi, bila mengirimkan tulisan mohon disertakan pas foto.

Kamis, 26 Januari 2012

Motivasi Menulis

Ada banyak alasan yang memotivasi orang untuk menulis. Di bawah ini adalah petikan motivasi dalam menulis;

Aku akan mati, sedangkan segala yang aku torehkan dengan penaku akan tetap hidup. Alangkah bahagianya, jika semua orang yang membaca tulisanku berdoa. Semoga Allah melimpahkan kelembutan-Nya kepadaku serta mengasihani kelemahanku dan jeleknya tindakanku. (Manshur Abdul Aziz bin Al ‘Ajyan)

setiap penulis pasti akan mati dan berlalu. Tetapi waktu akan mengabadikan apa yang telah ditulisnya. Maka, janganlah anda menulis dengan tangan anda, selain yang akan dapat membuat anda tersenyum ketika melihatnya kembali di akhirat. (Yusuf Qardhawi)

sedangkan anda?

Minggu, 14 Agustus 2011

dari sekedar nulis SMS menuju ahli menulis

Banyak sekali keluhan, kalo menulis itu susah. bahkan sangat susah. tapi, da rutinitas baru sebelum ramadhan datang, rutinitas ini berkaitan dengan merangkai kata. apa itu? tak lain dan tak bukan adalah sms ucapan ramadhan.
Sms ucapan ramadhan ini bagi saya adalah bukti bahwa menulis, yang notabene kegiatan merangkai kata, itu bukanlah sesuatu yang sangat sulit. tapi bisa dilakukan oleh semua orang.

Mungkin ada pertanyaan, loh kalo sms kan sedikit. tapi kalo nuliskan harus banyak berlembar-lembar lagi. jawabannya adalah iya! ya bagi kamu yang mau mempersulit diri sendiri. bagi saya menulis itu gak perlu banyak-banyak. toh sms ucapan ramadhan yang kita tulis dan kirimkan itu kalo kita kumpulkan jumlahnya bisa berlembar-lembar.
Nah, perlu dicatat juga kalo penulis hebat pun belum tentu bisa menulis langsung jadi banyak setiap kali menulis, tapi biasanya dicicil sedikit demi sedikit. Dan intinya, SMS itu bisa jadi jalan latihan menulis, mulai dari ucapan selamat sampai kalimat motivasi. dari sms yang pendek itu, kita akan bisa untuk merangkai kata dan membuat tulisan lebih panjang lagi.
Selamat berkreasi!

Selasa, 26 Juli 2011

Kiat Menulis - A. Fuadi

siapa yang teka kenal dengan nama yang satu ini, ia adalah penulis novel negeri 5 menara yang laris manis itu. di novelnya kita bisa mendapatkan cerita yang begitu detail penggambarannya. ternyata, itu semua karena ada catatan terekam yang bisa membangkitkan kerja otak untuk menuliskan kembali apa yang dulu pernah dilalui. salah satu contohnya adalah A. Fuadi masih menyimpan buku tulisnya 23 tahun yang lalu

http://www.youtube.com/watch?v=NiQn87DwZ2U

Dokumentasi sangat penting bagi seorang penulis novel. A. Fuadi menunjukkan buku
tulis pelajaran Mahfuzhatnya saat kelas 1 di Pondok Modern Darussalam Gontor.
Tips menulis ini disampaikan di Bedah Buku Negeri 5 Menara di Gontor.